Budaya Air di Sunda PDF Cetak E-mail
Artikel
Sabtu, 14 November 2009 07:00

Oleh Jakob Sumardjo

Hampir semua kota dan desa di Pasundan ini memakai nama berawalan ci- atau cai-, yaitu air atau sungai. Hal yang mirip terjadi pada masyarakat Melayu atau Minangkabau, yang banyak menggunakan nama air, seperti Air Bangis dan Air Hadidi. Begitu pula di masyarakat Jawa yang dekat dengan Sunda, seperti Banyumas dan Banyutibo.

Mengapa air begitu vital bagi kehidupan masyarakat ini? Hal itu dapat dipahami dari cara hidup mereka sebagai petani, baik yang berladang maupun bersawah. Pertanian didasarkan pada air. Perkawinan antara tanah dan air melahirkan kesuburan, kehidupan manusia itu sendiri. Kita yang sekarang hidup dari bidang jasa (priayi atau menak modern) tidak peduli lagi pada air kecuali buat air mineral saja. Hidup kita tidak lagi tergantung pada air sehingga kita tidak peduli sungai kering semua.

Pada zaman Hindu-Indonesia, air ini disebut tirta amerta. Tirta tidak lain adalah air. Amerta adalah bentuk negasi dari merta, mortal, atau mort yang tak lain adalah kematian. Jadi, tirta amerta adalah air antikematian atau lazim dikenal sebagai air kehidupan. Air merupakan berkah dan setiap berkah itu transenden, bukan dari pengalaman dan pengetahuan manusia. Karena transenden, air bersifat sakral, suci, murni, inti (aci/sari), halus, dan tak tampak dalam dirinya sendiri.

Huma

Air pada masyarakat Sunda lama yang rata-rata hidup dari huma bersumber pada air hujan dan hutan. Itulah sebabnya, dewa hujan, Patanjala, begitu dikenal di masyarakat Sunda. Begitu pula Sunan Ambu, Yang Mulia Ibu Langit, menjadi populer. Curah hujan yang tinggi di Pasundan adalah berkah dari langit, yang menyuburkan padi huma, sawah, serta hutan.

Perhumaan berbeda dengan persawahan. Huma membuka tanah pertanian secara terbatas yang cukup untuk sebuah komunitas kecil. Komunitas terbatas di Pasundan adalah tuntutan akibat kehidupan huma mereka, yakni berpindah 3-5 tahun sekali untuk mencari humus baru. Itulah sebabnya, hutan cukup lestari di Pasundan, seperti halnya di luar Jawa. Akan tetapi, pada masyarakat sawah, hutan justru selalu dibabat untuk perluasan sawah dan hunian.

Bahwa air adalah tirta amerta bagi masyarakat Sunda dapat disimak dari gejala budaya mereka. Akibat wilayahnya yang berbukit, aliran-aliran sungai di Pasundan begitu banyak. Mungkin itulah sebabnya, banyak kampung dan kota bernama sungai, ditandai dengan awalan ci- itu. Aliran-aliran sungai besar dan kecil sering bertemu menjadi tempuran (Jawa) atau campuran (Bali). Inilah tempat ideal buat hunian.

Delta-delta semacam ini lazim dibangun sebagai kabuyutan. Dalam setiap kabuyutan selalu terkandung unsur-unsur hutan mata air dan artefak batu. Gejala ini sesuai dengan pola pikir tritangtu Sunda, yakni resi, ratu, dan rama. Resi adalah kebijaksanaan dan kehendak. Ratu adalah yang menjalankan kebijaksanaan atau kehendak baik tersebut, sedangkan rama adalah pelaku kebijaksanaan dan kehendak. Dalam lembaga sosial Sunda, kedudukan itu dijabat oleh pemegang adat buhun, raja, atau menak (sekarang gubernur), dan rakyat Sunda sebagai pelaku atau perwujudan kebijaksanaan itu.

Dalam zaman berkembangnya pantun-pantun Sunda, juga dalam ungkapan Sunda di pedesaan, inilah yang dinamakan "tiga puluh tiga pulau". Apa yang disebut "pulau" tak lain adalah kabuyutan tempat bertemunya dua sungai. Seperti telah diungkapkan, dalam setiap kabuyutan selalu ada mata air yang dianggap keramat. Kabuyutan semacam itu disebut pulo karena delta pertemuan dua sungai sering disambung dengan saluran buatan (walungan) sehingga kabuyutan benar-benar dikepung tiga aliran sungai dan menjadi pulau.

Air dari mata air kabuyutan ini, yang kadang lebih dari satu, dinilai keramat dan mendatangkan berkat. Tidak jarang, dalam ritual kampung, nasi atau bubur yang akan dijadikan kenduri bersama harus dimasak dengan air kabuyutan. Itulah makna air kehidupan itu, bahwa air merupakan berkah yang akan membawa kelestarian hidup di dunia. Hidup yang sehat di dunia memungkinkan manusia menjalankan ibadah yang diajarkan para resi dan diatur para penguasa.

Botol kemasan

Bagi masyarakat Sunda lama, yang sisa-siasanya masih hidup di daerah pedesaan Sunda sekarang, air bermakna kosmik perempuan. Perempuan adalah kehidupan itu sendiri. Tidak ada perempuan, tidak ada air, tidak ada kehidupan, yang ada hanya mortalitas. Pada masa lampau, kedudukan perempuan Sunda sama terhormatnya dengan mereka yang menghormati air kehidupan ini. Perempuan bukan dilihat dari segi seksualitasnya, melainkan dari segi keibuannya. Perempuan bagi Sunda itu selalu bermakna ambu atau ibu.

Tirta amerta atau air kehidupan ini senantiasa berada di dekat manusia Sunda, yakni dalam bentuk balong untuk personal dan lengkong atau situ untuk sosial. Makna sumur seperti dikenal dalam masyarakat Jawa sebenarnya asing bagi masyarakat Sunda. Sumur Sunda tak lain adalah mata air yang ada di mana-mana dan biasanya dikitari pohon-pohon raksasa yang sengaja dihutankan. Di Linggarjati, Kuningan, terkenal Tujuh Sumur Keramat yang sampai sekarang masih diziarahi. Sumur-sumur semacam itu di masyarakat Jawa disebut belik, yang biasanya muncul di tepi sungai bercadas.

Budaya air di Pasundan merupakan siklus alamiah yang menyatukan curah hujan, sungai, hutan, ladang, dan hunian. Karena ladang modern kita sudah pindah ke kantor ber-AC, kita tak peduli lagi curah hujan (bikin banjir), hutan, sungai, balong, situ, atau lengkong. Curah hujan bukan lagi berkat karena hutan telah gundul, sungai telah kering, dan mata air menjadi comberan. Kita hanya mengenal makna air dari botol kemasan air mineral.

JAKOB SUMARDJO Esais

Kompas, Sabtu, 14 November 2009


AddThis
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Masukkan Kode Anti-Spam yang ada pada Gambar di Atas Pada Kolom Kosong Di Sampingnya

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 

Perspektif

Pentingnya Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial

Selasa, 6 Maret 2012

Misi mewujudkan Indonesia Aman dan Damai didasarkan pada permasalahan bahwa Indonesia masih rawan dengan konflik. Konflik komunal dengan kekerasan (Konflik Sosial) yang selanjutnya disingkat Konflik, merupakan fenomena yang menandai perjalanan ...

Esensi Perubahan Undang-Undang Peradilan Anak

Jumat, 17 Februari 2012

Oleh: Tim Adang Daradjatun Dalam Konvensi PBB tentang perlindungan Hak-Hak Anak  (Convention on the Rights of the Child /CRC) diatur tentang bantuan hukum, prosedur-prosedur, kewenangan dan ...

Pendekatan Holistik RUU Keimigrasian

Kamis, 22 Juli 2010

Arya Sandhiyudha As Master dalam bidang Strategic Studies dan penerima Certificate in Terrorism Studies dari S. Rajaratnam School of International Studies   Dewan...

Oprah, Akhir Sebuah Era?

Senin, 23 November 2009

News image

By Kevin ConollyKetika kebanyakan perusahaan Amerika mengumumkan rencana bisnis yang baru, biasanya pengumuman itu hanya disampaikan lewat sebuah pernyataan di bursa Wall Street atau dalam pertemuan dengan beberapa orang analis ...

Ubi Cilembu Potensi Pangan Lokal yang Populer di Pasar Internasional

Minggu, 22 November 2009

News image

Ubi jalar dikenal dengan nama ketela rambat, huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweetpotato (Inggris), dan shoyo (Jepang) merupakan sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan ki...

Kiamat "2012" (Hanya) di Film

Senin, 16 November 2009

News image

Kiamat itu sudah dekat? Apa jadinya bila bumi yang selama ini kita pijak tiba-tiba amblas dan hilang tertelan air laut? Mulai dari rumor sampai data-data ilmiah sert...

Budaya Air di Sunda

Sabtu, 14 November 2009

Oleh Jakob Sumardjo ...

Tentang Gempa di Masa Islam

Rabu, 11 November 2009

News image

Arsitek-arsitek di masa Islam, juga telah membuat bangunan-bangunan tahan gempa.Fenomena alam berupa gempa bumi, sejak awal menjadi kajian ilmuwan Muslim. Al-Kindi, misalnya, yang merupakan ahli matematika, fisika, dan astronomi, membuat ...

Serigala Terakhir, Konflik untuk Pendewasaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2009

News image

Di sebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan ...

Film Epik Nabi Muhammad Akan Dibuat

Selasa, 3 November 2009

News image

DOHA - Sebuah film epik tentang Nabi Muhammad akan segera dibuat. Tak tanggung-tanggung, rencananya film yang ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada publik tentang arti sebenarnya Islam itu akan diproduseri oleh ...

Membedah Kisah Banjir Besar Zaman Nabi Nuh

Sabtu, 31 Oktober 2009

Peristiwa banjir besar itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar ...

Memberdayakan Pendidikan Seni Sunda

Rabu, 28 Oktober 2009

Oleh Djasepudin Rasa cinta dalam memelihara seni, sastra, dan budaya Sunda bisa diungkapkan dengan beragam cara. Untuk para seniman, tentu cara yang paling merenah adalah berkesinambungan dalam mencipta dan menampilkan ...

Emak Ingin Naik Haji

Rabu, 28 Oktober 2009

News image

Jika tak ada aral, November mendatang satu lagi karya film berbalut tema religi menyerbu bioskop. Film berjudul Emak Ingin Naik Haji ini nantinya akan menjadi film yang akan menambah semar...

Islam dalam Pandangan Barat

Selasa, 27 Oktober 2009

Nikolaos van Dam(Duta Besar Belanda untuk Indonesia)Banyak orang Barat belum pernah menapakkan kaki di negeri Arab atau dunia Islam, tetapi mereka mendapat kesan tentang Islam dan Muslim melalui media masa ...

Optimisme Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2009

Oleh Azyumardi AzraHari-hari ini, seputar peringatan 81 tahun Sumpah Pemuda, banyak kalangan generasi lebih senior gelisah. Kegelisahan itu tecermin dari berbagai konvensi, seminar, dan diskusi yang kebetulan saya terlibat sebagai ...